Jenis Kayu Yang Digunakan Dalam Produksi Ukiran

Jenis Kayu Yang Digunakan Dalam Produksi Ukiran

Sehubungan dengan bahan yang akan digunakan untuk membuat ukiran ini adalah menggunakan kayu serta produk ukiran kayu sudah menjamur dalam penggunaannya pada produk furniture. Berikut ini jenis kayu yang banyak digunakan dalam membuat produk ukiran:
Jenis Kayu
1. Kayu Jati
2. Kayu Mahoni
3. Kayu Sonokeling
4. Kayu Suren/Surian
5. Kayu Sungkai
6. Kayu Bangkirai
7. Kayu Keruing
8. Kayu Bayur
9. Kayu Bintangur
10. Kayu Pulai
11. Kayu Durian
12. Kayu Ramin
13. Kayu Tembesu


Disini kami menggunakan kayu tembesu seperti para pengukir lain yang ada di Palembang sebagai media ukiran. Dikarenakan kayu yang memiliki tekstur yang kokoh dan lembut sehingga dapat dengan mudah dibentuk sebagai ukiran serta sifat kayu yang tahan terhadap hewan perusak kayu.

Spesifikasi Kayu Tembesu
Adapun spesifikasi kayu tembesu ini adalah kayu kelas kuat I-II dengan berat jenis 0.72 – 0.93 gr/cm3 (Lemmens et al,. 1995) seperti pada tabel dibawah ini.
Sumber : Forest Product Laboratory USDA, 1999
Perkembangan Ukiran Palembang
Berdasarkan observasi yang Penulis lakukan dilapangan, dengan melakukan wawancara pada salah satu penjual ukiran yang ada di Jl. Fakih Jalalludin, 19 ilir Palembang tentang perkembangan dari penjualan ukiran  Palembang sampai saat sekarang ini. Jenis kayu yang digunakan pada ukiran ini adalah kayu tembesu dikarenakan kayu memiliki struktur yang bagus untuk dijadikan ukiran serta mudah didapat di daerah sumatera selatan ini.

Beliau memulai karir dibidang ukiran ini sejak tahun 1996 dan pada saat itu ukiran Palembang ini sangat banyak diminati masyarakat dan penjualan ukiran pada saat itupun juga sangat berkembang dan dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Namun sekarang ukiran Palembang tidak banyak diminati lagi dibandingkan dengan ukiran Jepara dikarenakan oleh faktor tertentu. Menurut bapak Robin sebagai salah satu penjual ukiran di 19 Ilir Palembang, “Penjualan ukiran Palembang saat ini sudah berbeda tidak sebaik dahulu ketika awal memulai karirnya dikarenakan permintaan konsumen yang menurun setiap tahun nya,” ujar dia.

Berikut data penjualan dan faktor tidak berkembangnya ukiran Palembang yang didapat Penulis dari lapangan.
penjualan dan faktor tidak berkembangnya ukiran Palembang

Berikut ini faktor-faktor penyebab tidak berkembangnya penjualan ukiran Palembang:
1) Ukiran yang rumit sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam proses produksinya.
2) Nilai jual yang tinggi.
3) Faktor menurunnya pendapatan konsumen beberapa tahun terakhir yang berdampak pada turunnya permintaan terhadap produk ukiran Palembang

Jenis Alat dan Motif Seni Ukir

Jenis Alat dan Motif Seni Ukir

Materi - Alat-alat yang digunakan untuk pengerjaan mengukir adalah seperti bor, gergaji listrik, ketam, palu dan paling penting pahat. Sedangkan Jenis Motif yang biasa digunakan berdasarkan Motif pada Ukiran dibawah ini.

Motif Pada Ukiran
1. Motif Jepara
Motif ukiran Jepara
Motif ukiran Jepara
Bentuk-bentuk ukiran daun pada motif ini berbentuk segitiga dan miring. Pada setiap ujung daun biasanya terdapat bakal bunga ataupun buah dengan bentuk melingkar. Bentuk lingkaran ini tidak hanya tunggal, tetapi bentuknya lebih dari satu atau bertingakat. Lingkaran pada pangkal lebih besar, semakin ke ujung semakin mengecil. Ada juga bakal bunga atau buah berbentuk lingkaran besar yang dikelilingi beberapa lingkaran kecil.

Keterangan
Ukiran motif Jepara ini kebanyakan alas atau dasarnya dibuat tidak begitu dalam, bahkan sering dibuat dengan dasar (tembus), ukiran ini sering disebut ukiran krawangan atau ukiran dasar tembus. Ukiran motif Jepara ini sering dipakai untuk menghias barang-barang kerajinan.

2. Motif Pekalongan
Motif ukiran Pekalongan
Motif ukiran Pekalongan
Motif Pekalongan mempunyai bentuk ukiran daun campuran, yaitu pencampuran antara bentuk daun yang cembung dan bentuk yang cekung. Sebenarnya bentuk campuran dalam motif tradisional Jawa memang banyak ditemukan, baik dari motif Pekalongan maupun motif tradisional yang lainnya, memang beberapa ada yang konsekuen dengan kekhasan bentuknya sendiri.

3. Motif Madura
Motif Madura ini banyak terdapat pada perahu, alat-alat untuk karapan sapi, hiasan bangunan rumah dan sebagainya. Bentuk motif ukiran ini kebanyakan berlapis-lapis (bersusun) sangat bagus, karena ukirannya kelihatan saling terpisah antara bentuk yang satu dengan yang lainnya. Bentuk ukiran yang bersusun ini tampak lebih hidup dan kelihatan sekali keindahannya yang khas, yang agak berbeda dengan motif tradisional yang lain.
Motif ukiran Madura
Motif ukiran Madura
4. Motif Yogyakarta
Motif Yogyakarta ini merupakan motif khas tradisional Jawa yang menggunakan nama kerajaan yang berkembang di wilayah tersebut. Kerajaan Ngayogyakarta yang masih tetap eksis sampai saat ini, walaupun sekarang menjadi salah satu wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.
Motif ukiran Yogyakarta
Motif ukiran Yogyakarta
Motif Yogyakarta ini terkenal dengan nama ukiran perak Yogya. Bentuk motif ini mengambil contoh dari unsur daun pakis. Ukiran daun pokok berelung-relung, lemah gemulai dengan bentuk daun cembung dan cekung yang tumbuh pada relung tersebut. Pada akhir relung ini sering tumbuh bunga yang mekar dengan indahnya. Bunga yang mekar ini memberikan simbol seorang gadis muda yang sedang mekar-mekarnya dan melambangkan pula masa awal perkembangan menuju suatu kemajuan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang haruslah punya cita-cita yang tinggi untuk meraih masa depan yang cerah.

5. Motif Surakarta
Motif ukiran Surakarta
Motif ukiran Surakarta
Motif Surakarta ini mempunyai bentuk ukiran daun yang melengkung berirama seperti simbol yang terdapat pada masyarakatnya yaitu masyarakat yang ramah, bersahabat dan menghormati orang lain. Di samping itu, bentuk motif ini menggambarkan tipikal masyarakatnya terutama untuk wanita yaitu digambarkan dengan lengkungan yang lemah gemulai dengan dipenuhi kesantunan wataknya

6. Motif Cirebon
Bentuk ukiran daun motif Cirebon ini berbentuk cembung dan cekung (campuran). Corak motif ukiran ini ada yang berbentuk karang adapula yang berbentuk awan, menyerupai ukiran Tiongkok. Ukiran corak ini kurang begitu dikenal, karena ukiran ini kebanyakan hanya dipakai untuk hiasan bangunan rumah saja.Untuk fungsi-fungsi yang lain memang jarang ditemukan, apalagi yang hanya berfungsi sebagai hiasan semata, hampir sama sekali tidak dijumpai.
Motif Ukiran Cirebon
Motif Ukiran Cirebon
Kalaupun ditemukan hiasan di luar bangunan rumah, motif yang dijumpai tersebut bukanlah murni motif Cirebon, tetapi motif pengembangan dari motif Cirebon tersebut. Pencampuran yang semacam ini sudah tidak tergolong ke dalam motif ukir tradisional Jawa, tetapi termasuk ke dalam motif modern atau mungkin juga motif kontemporer.

7. Motif Palembang
Ciri ukiran Palembang sangat khas. Semua motifnya bunga dan perwarnannya pun di dominasi warna kuning keemasan, warna dominan dalam ukiran Palembang. Kemilau warna yang dihasilkan dari cat warna emas inilah yang membedakannya dengan ukiran daerah lain, seperti misalnya dari Jepara. Badan lemari, daun pintu, tutup Aquarium atau bingkai cermin dan foto, misalnya selalu disaput cat warna emas.
Motif ukiran Palembang
Motif ukiran Palembang
Sementara bagian lainnya dilapisi warna merah tua dan hitam. Gambar bunga mawar dengan warna hitam makin menonjolkan penampilan ukiran kayu Palembang. Biasanya jenis kayu yang dipakai untuk mengukir pun harus lah jenis kayu tembesu yang keras dan kuat.
Mengenal Jenis-jenis Seni Dalam Ukiran

Mengenal Jenis-jenis Seni Dalam Ukiran

Materi - Masyarakat Indonesia banyak yang menganggap bahwa ukiran kayu hanya berasal dari Jepara dan Bali, karena memang kedua tempat tersebut merupakan pusat kerajinan ukir yang ada di Indonesia. Namun apabila ditinjau lebih dalam, sebenarnya tiap-tiap daerah mempunyai corak dan motif khas dalam ukirannya. Salah satu daerah yang memiliki kerajinan ukir dengan motif khas adalah UD Electra Mebel yang berada di Desa Prambon Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Di UD Electra Prambon tersebut terdapat industri kerajinan rono ukir yang sudah dikenal masyarakat luas.
Mengenal Jenis-jenis Seni Dalam Ukiran

Jenis-jenis Seni Dalam Ukiran
1. Ukiran Tebuk Tembus
Ukiran tebuk berasal dari sekeping papan atau beberapa keping papan yang ditebuk dengan menggunakan gerudi gergaji (gergaji menggerudi) supaya tembus bentuk-bentuk bunga atau corak. Terdapat dua jenis ukiran jenis ini, iaitu ukiran tebuk tidak silat dan ukiran tebuk silat.

Ukiran tebuk tidak silat banyak terdapat pada rumah-rumah lama iaitu bahagian selasar, lambur, dinding, pintu, perabot dan mimbar masjid. Bentuk bunga ukir ialah awan larat, siling, kaligrafi dan simetri.

2. Ukiran Bunga Timbul
Ukiran ini tidak tembus. Ia mengandungi bunga ukir yang disilatkan dan tidak silat. Terdapat pada perabot, mimbar masjid, barang hiasan yang diperbuat daripada kayu, ulu serta sampir senjata. Bunga ukirnya sama seperti ukiran tebuk.

3. Ukiran Arca
Ukiran ini banyak terdapat pada ulu senjata seperti ulu keris, kepala tongkat, kukur kelapa, kotak nelayan dan sebagainya. Bunga ukirannya sama seperti ukiran timbul tetapi lebih halus dan kecil.

4. Larik
Melarik merupakan satu cara orang-orang Melayu mengukir kayu. Ukiran larik berbentuk bulat dengan susunan gerlang-gerlang dan gentinggentat yang menarik. Ukiran ini sering terdapat pada ulu senjata, perabot, tongkat, gasing, tiang-tiang rumah dan sebagainya.

5. Ukiran Kayu Hanyut
Ukiran ini di anggap masih baru. Ukiran idi diperkenalkan oleh Perbadanan Kraf tangan Malaysia. Ukiran ini hanya sebagai hiasan semata-mata. Ukiran kayu hanyut diukir pada bahagian-bahagian tertentu dan dibentuk menyelupai ikan, burung dan sebagainya. Kayu induknya di ambil dari kayu atau akar yang terdapat dalam sungai.
Mengenal Tentang Sejarah Ukiran | Materi Seni Ukir

Mengenal Tentang Sejarah Ukiran | Materi Seni Ukir

Materi - Di Indonesia seni ukir sudah dikenal sejak lama yaitu sekitar 1450SM. Pada saat itu bahan yang dipakai sebagai media ukir adalah tanah liat, pelepah daun, kayu, batu, tulang atau bahan lain yang saat itu mudah ditemui dan mudah dipahat. Motifnyapun juga masih sangat sederhana. Biasanya beragam motif yang diukir merupakan simbol-simbol kepercayaan dan pesan untuk sebuah acara ritual kepercayaan.
Mengenal Tentang Sejarah Ukiran | Materi Seni Ukir

Selanjutnya pada jaman 500SM hingga 300SM bahan media ukir mengalami perkembangan setelah ditemukannya logam seperti perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Pada jaman ini ukiran sudah menggunakan teknologi cor. Motif ukir mengalami perkembangan mulai dari motif meander, pilin berganda, tumpal, topeng serta hewan dan manusia.

Setelah masuknya agama Hindu, Budha dan Islam ke Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dalam bentuk desain dan motif. Contoh peninggalan ukiran banyak ditemukan pada badan-badan candi dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para rajaraja. Bentuk ukiran juga ditemukan pada senjata-senjata, seperti keris dan tombak, batu nisan, masjid, keraton, alat-alat musik, termasuk gamelan dan wayang. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dan lain-lain.

Pada masa sekarang ukir kayu dan logam tidak hanya mengalami perkembangan pesat namun juga sudah bergeser dari motif dan kegunaannya. Dahulu ukiran dimaksudkan sebagai simbol pesan dalam kaitannya dengan kepercayaan. Namun sekarang telah berubah menjadi seni hiasan yang cenderung hanya untuk mempercantik dan memperindah ruangan atau tempat dimana ukiran itu diadakan. Namun demikian pakem corak masing-masing daerah masih banyak dipertahankan, seperti motif Pejajaran, Majapahit, Mataram, Pekalongan, Bali, Jepara, Madura, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, dan berbagai macam motif yang berasal dari luarJawa.



Materi Seni Ukir dan Sejarahnya

Materi Seni Ukir dan Sejarahnya

Materi - Seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu, batu, atau bahan-bahan lain. Untuk Materi yang baik untuk Seni Ukir bisa dibaca dibawah ini.
Foto MichaelGaida
Bangsa Indonesia mulai mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM.

Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander, tumpal, pilin berganda, topeng, serta binatang maupun manusia. Motif meander ditemukan pada nekara perunggu dari Gunung merapi dekat Bima. Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat, dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT. Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu dari kerinci, Sumatera.

Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba. Nusa Tenggara, dan pada kapak perunggu dari danau Sentani, Irian Jaya. Motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kejahatan. Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.

Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan badan candi dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para raja-raja. Bentuk ukiran juga ditemukan pada senjata-senjata, seperti keris dan tombak, batu nisan, masjid, keraton, alat-alat musik, termasuk gamelan dan wayang.

Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadangkadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dll. Bukti-bukti sejarah peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan Mendut di Jawa Tengah. Saat sekarang ukir kayu dan logam mengalami perkembangan pesat. Dan fungsinya sudah bergeser dari hal-hal yang berbau magis berubah menjadi hanya sebagai alat penghias saja.pada ukiran kayu meliputi motif Pejajaran, Majapahit, Mataram, Pekalongan, Bali, Jepara, Madura, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, dan berbagai macam motif yang berasal dari luarJawa.

KERAJINAN
Rajin : suka dan giat bekerja, selalu berusaha, getol.
Kerajinan : hal ( sifat ) rajin, kegetolan
Contoh :
Barang-barang kerajinan yaitu barang-barang hasil pekerjaan tangan.

Dengan demikian yang dimaksud dengan Kerajinan Ukir adalah barang-barang ukiran atau hiasan yang dihasilkan oleh seseorang yang dalamperwujudannya memerlukan ketekunan, keterampilan, dan perasaan seni dengan cara di toreh/dipahat di atas kayu, batu, logam, gading, dsb. Sedangkan yang dimaksud dengan kerajinan ukir kayu adalah jenis kerajinan yang menggunakan teknik ukir pada bahan kayu.

Sedangkan teknik ukir adalah teknik pembuatan hiasan yang menggunakan alat berupa tatah / pahat ukir. Seni Ukir merupakan gubahan dari bentuk-bentuk visual yang dalam pengolahannya mempunyai sifat kruwikan ( Jawa ) dengan susunan yang harmonis, sehingga memikiki nilai estetis. Seni ukir diujudkan melalui bahan kayu, logam, gading , batu dan bahan-bahan lain yang memungkinkan untuk dikerjakan. Adapun bentuk-bentuk gubahan tersebut merupakan stilisasi dari bentuk alam yang meliputi tumbuhtumbuhan, binatang, awan, air, manusia.

Selanjutnya yang dimaksud dengan kerajinan adalah jenis kesenian yang menghasilkan berbagai macam perabot, hiasan atau barang-barang yang artistik, terbuat dari kayu, besi, porselin, emas, gading, kain tenunan, dsb. Hasil dari suatu kerajinan tangan juga di sebut “seni guna